Lelaki Tua di Dalam Angkot
Di angkot yang kutumpangi hari ini, ada obrolan menarik antara seorang lelaki tua (aku yakin dia udah kepala lima) dan (kuduga) rekan sekantornya. Awalnya aku gak berniat nguping pembicaraan mereka. Tapi, gimana gak denger secara aku duduk persis di sebelah si bapak.
Siapa mengira, di balik tubuh tua tetapi masih tampak sehat itu tersembunyi sebuah penyakit serius. Dari obrolan mereka, aku tahu si bapak menderita penyakit gagal ginjal. Penyakit yang menurut dia berawal dari hipertensi.
Seminggu tiga kali bapak itu harus cuci darah dengan biaya Rp 1,5 juta. Jadi, sebulan dia harus merogoh kocek Rp 15 juta. Jumlah yang tidak sedikit. Beruntung, 60 persen dari biaya pengobatan ditanggung kantor istrinya, salah satu BUMN besar di negeri ini (emang ada ya BUMN yang gak besar?).
“Berapa lama Bapak sudah menjalani terapi?” tanya sang rekan.
“Sepuluh tahun. Ya, Alhamdulillah,” jawab si bapak sambil tersenyum.
Tidak ada nada keluhan dan pesimistis dalam setiap kata-katanya. Padahal, perjuangannya pasti berat sekali. Di tengah sakit yang tak bisa dianggap remeh itu, dia bahkan masih sangat bersyukur atas nikmat hidupnya sampai saat ini. Mendadak mataku memanas (gak sampe nangis lhoo..).
Tak terasa angkot sudah sampe di Jalan Banda. Aku segera turun. Tak lupa kupanjatkan sepotong doa semoga bapak itu dilapangkan jalannya menuju kesembuhan. Amin.
Bandung yang gerimis, Selasa, 6 November 2007
Di angkot yang kutumpangi hari ini, ada obrolan menarik antara seorang lelaki tua (aku yakin dia udah kepala lima) dan (kuduga) rekan sekantornya. Awalnya aku gak berniat nguping pembicaraan mereka. Tapi, gimana gak denger secara aku duduk persis di sebelah si bapak.
Siapa mengira, di balik tubuh tua tetapi masih tampak sehat itu tersembunyi sebuah penyakit serius. Dari obrolan mereka, aku tahu si bapak menderita penyakit gagal ginjal. Penyakit yang menurut dia berawal dari hipertensi.
Seminggu tiga kali bapak itu harus cuci darah dengan biaya Rp 1,5 juta. Jadi, sebulan dia harus merogoh kocek Rp 15 juta. Jumlah yang tidak sedikit. Beruntung, 60 persen dari biaya pengobatan ditanggung kantor istrinya, salah satu BUMN besar di negeri ini (emang ada ya BUMN yang gak besar?).
“Berapa lama Bapak sudah menjalani terapi?” tanya sang rekan.
“Sepuluh tahun. Ya, Alhamdulillah,” jawab si bapak sambil tersenyum.
Tidak ada nada keluhan dan pesimistis dalam setiap kata-katanya. Padahal, perjuangannya pasti berat sekali. Di tengah sakit yang tak bisa dianggap remeh itu, dia bahkan masih sangat bersyukur atas nikmat hidupnya sampai saat ini. Mendadak mataku memanas (gak sampe nangis lhoo..).
Tak terasa angkot sudah sampe di Jalan Banda. Aku segera turun. Tak lupa kupanjatkan sepotong doa semoga bapak itu dilapangkan jalannya menuju kesembuhan. Amin.
Bandung yang gerimis, Selasa, 6 November 2007

2 Comments:
Tumben niks kamu sentimentil ... *itu pasti karena pengaruh hujan ya?*
gak papa dunks, biar gak emosional mulu..hehheee...
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home