Thursday, September 06, 2007

Pesan Pendek Berbuntut Panjang

“Bagaimana ada minat n rencana ambil kavling tanah di Bdg ga? Ada yang bagus n bisa dikredit ga?”

Pesan pendek alias SMS dari nomer tak dikenal itu datang tanpa diundang awal Agustus lalu. Selama ini kalo dapet SMS tak dikenal—sebagian besar ulah orang iseng bin jahil—aku selalu menjawab dengan sopan (cieeeh..) “Maaf, ini siapa?”. Biasanya jawaban sopanku itu gak direspons si pengirim dengan semestinya. Oknum-oknum gelap itu bukan orang yang bener-bener asing sih, melainkan orang deket seperti teman lama ato sepupu yang kurang kerjaan.

Berbekal pengalaman buruk seputar SMS gelap, kali itu aku menjawab dengan kalimat berbeda bernada canda (sayang aku lupa membubuhkan ikon senyum) “Maaf sepertinya anda salah sambung. Saya bukan makelar tanah.” Yang ada di pikiranku, salah sendiri kirim SMS gak pake nama. Jangan salahkan aku kalo jawabanku gak berkenan di hati.
Atao, kalo kenal betul siapa aku, dia gak bakal marah karena tau aku becanda.

Ternyata oh ternyata, jawabanku menuai bencana. Si pengirim sepertinya tersinggung dengan kata-kataku, bahkan sempet ngatain aku judes. Tuduhan yang menyakitkan. Hiks hiks. Memang kadang aku judes, tapi dalam adegan tertentu atau dengan lawan main tertentu aja ..hahaha (kayak sinetron aja sih). Habis itu aku masih kirim satu SMS lagi bernada canda. Hehe, gak kapok-kapok. Si pengirim bener-bener marah. Sadar berbuat salah, aku buru-buru minta maaf. Sayang, balasannya tetep menyiratkan keberatan :((

Rasa bersalahku gak abis-abis. Aku berniat menelpon untuk tahu siapa dia, tapi takut dengan kenyataan siapa si pengirim SMS misterius itu. Aku khawatir ternyata dia rekan kerja ayahku, om ato pakde yang udah sepuh, ato siapa pun yang bikin aku mati gaya kalo suatu saat ketemu. Yang jelas aku berkesimpulan dia itu laki-laki :P. Trus, aku juga sempet mencurigai beberapa orang sebagai tersangka. Kecurigaan yang hanya berdasarkan feeling.

Akhirnya aku tepis aja rasa bersalahku. Toh, aku dah minta maaf. Kalo misalnya dia gak memaafkan, ya sudah itu urusan dia dengan Yang Di Atas. Loh, malah bawa-bawa nama Tuhan segala.

Sebulan berlalu. Aku masih inget aja pernah berbuat salah. Aku masih mikir gimana cara mendapatkan maaf agar rasa berdosaku terbayar. Aku bertekad menjelang ramadhan mau kirim SMS permintaan maaf, seperti yang biasa aku lakukan ke teman dan keluarga. Bukannya menunda-nunda waktu, hanya mencari momen yang tepat aja.

Seperti ada kekuatan telepati, awal Agustus di tanggal yang sama , nama Sensitif muncul di layar ponsel. Asal tau aja, nomer asing itu aku namain Sensitif karena sejak insiden berdarah itu dia menolak kasih tau identitasnya. Gak ada nada dongkol dari SMS yang dikirim. Setelah sekian kali aku tanyain, akhirnya dia membeberkan jati dirinya (halah).

Ow ow sapa dia???? Dia tuh kakak kelasku jaman SMA yang aku kenal dari milis alumni, di mana dia jadi salah satu moderatornya. Lega. Akhirnya aku tahu siapa dia, dan rasa bersalah selama sebulan lenyap sudah. Satu pesan moral buatku dari kejadian ini, jangan maen-maen sama SMS. Tapi tunggu, kok perasaaanku masih gak enak ya? Waaaaaa, nama Sensitif di ponselku belum digantiiii….!

Bandung, September 2007
Buat Mas Sohn dan keluarga di Kalimantan Selatan, salam perdamaian ya :)

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Sy sering mengalami pengalaman serupa dengan beberapa nomor tidak dikenal.
Dl selalu sy hadapi dengan kemarahan atau 'balasan' yang setara. Namun, skrg sy belajar untuk mengalahkan ego diri sendiri dengan cara menjadikan si pengusik tadi sebagai sahabat (maya), karena toh akhirnya sy juga tidak bisa mengetahui siapa jati diri dia sebenarnya.Setidaknya ini suatu tantangan bg sy dan akhirnya akan mendapat kepuasan bila berhasil..
Kebanyakan orang melakukan kesalahan, tapi hanya SEDIKIT yang berani dan mau mengakui kesalahannya..
Angkat topi untuk d'nanik, silakan kapan2 bila ke tanah seberang silakan mampir ke rumah.
NB.Rasanya kl ga salah itu lg nampang di kampus ganesha kah??
-mazelisonk-

9:22 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home