Kampung Mahmud Bikin Bad Mood
5 Oktober dini hari, habis rapat redaksi, Faiq ada agenda liputan ke Kampung Mahmud bareng Mbak Yenti ma Rony. Indah menyatakan diri ikutan. Si bawel Adi juga ternyata ikut.
Sementara aku??? Sebenernya diajakin juga ma Mbak Yenti. Tapi, deadline memaksaku harus duduk (gak tenang) di depan kompie, melototin naskah buat edisi khusus menyambut Lebaran. Sialaaaaaaaaaaaaan!
Salah satu temen desainer grafis bilang, gak papa aku pulang karena banyak hal belum fix. Tapi, demi menjunjung tinggi profesionalisme (hueeeek), aku tetep stay di tempat. Mana komposisi bos masih lengkap. Big boss malah lagi serius meriksa tulisan wartawan, yang beberapa saat sebelumnya aku tagih. Gimana mungkin ngabur meskipun aku dah meriksa tiga tulisan jatahku? Di sekelilingku, temen-temen produksi lagi sibuk ngerjain tugas masing-masing. Genk Mahmud entah di mana, mungkin dah berangkat.
Ya udah aku ngerjain apa aja yang bisa dikerjain. Lagi meriksa tabel, ada SMS dari Faiq. Sido melu gak k kampung mahmud? (jam 00:51). Kupikir beneran dia nawarin. Mungkin mereka masih di parkiran. Eh, tapi perasaanku langsung gak enak karena dalam hitungan detik bermunculan SMS dari temen-temen lain.
Nik, kita lg jalan seru nih. Jalannya lengang dan indah looh. (Indah, jam 00:51)
Nik, martabak cibdytnya uenak tenan rek. (Mbak Yenti, jam 00:51)
Mudik = Kembali ke Udik. Udik = Kampung. Saatnya ke Udik Mahmud. Hahaha… (Adi, jam 00:51)
Hidup ini memang gak adil!!!!
5 Oktober dini hari, habis rapat redaksi, Faiq ada agenda liputan ke Kampung Mahmud bareng Mbak Yenti ma Rony. Indah menyatakan diri ikutan. Si bawel Adi juga ternyata ikut.
Sementara aku??? Sebenernya diajakin juga ma Mbak Yenti. Tapi, deadline memaksaku harus duduk (gak tenang) di depan kompie, melototin naskah buat edisi khusus menyambut Lebaran. Sialaaaaaaaaaaaaan!
Salah satu temen desainer grafis bilang, gak papa aku pulang karena banyak hal belum fix. Tapi, demi menjunjung tinggi profesionalisme (hueeeek), aku tetep stay di tempat. Mana komposisi bos masih lengkap. Big boss malah lagi serius meriksa tulisan wartawan, yang beberapa saat sebelumnya aku tagih. Gimana mungkin ngabur meskipun aku dah meriksa tiga tulisan jatahku? Di sekelilingku, temen-temen produksi lagi sibuk ngerjain tugas masing-masing. Genk Mahmud entah di mana, mungkin dah berangkat.
Ya udah aku ngerjain apa aja yang bisa dikerjain. Lagi meriksa tabel, ada SMS dari Faiq. Sido melu gak k kampung mahmud? (jam 00:51). Kupikir beneran dia nawarin. Mungkin mereka masih di parkiran. Eh, tapi perasaanku langsung gak enak karena dalam hitungan detik bermunculan SMS dari temen-temen lain.
Nik, kita lg jalan seru nih. Jalannya lengang dan indah looh. (Indah, jam 00:51)
Nik, martabak cibdytnya uenak tenan rek. (Mbak Yenti, jam 00:51)
Mudik = Kembali ke Udik. Udik = Kampung. Saatnya ke Udik Mahmud. Hahaha… (Adi, jam 00:51)
Hidup ini memang gak adil!!!!

5 Comments:
Huehueheuheuheu... emosiii..=))gimana nik, nanti aku cariin cowok namanya mahmud ajah yaaa?
@indah: kalo mahmudnya kayak tengku firmansyah boleh deh. dibungkus, satu yak!
Kapan-kapan aku bungkusin ikhwan cakep penjual kopiah di Kampung Mahmud. Umur masih 25 tahun, jejaka, cakep, alim, sedikit kaya' Tengku Firmansyah.... Hhehehe...
gak udah maksa deh kalo penampakannya hanya sedikit ky tengku firmansyah. aku gak percaya dengan penglihatanmu :P btw, gak jadi ah nyari ihwan kampung mahmud. ntar di sana gak bisa puas internetan dehh...
hueeeeek jugah...
kasiyan baner sampeyan dek. dup idup memang gak adil, tapi itu profesionalisme lebih paiiiiiiiiiiiiiitttt.... ;-p
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home