Mudik Gratis, Episode Rencana Tinggal Rencana
Akhir Januari lalu, aku dapat jatah dinas luar kota alias DLK selama seminggu ke Yogya. Wuaaahhh senangnyaaa, padahal aku gak minta dikirim ke Yogya loh. Ke mana aja okelah. Beberapa orang sirik, secara aku bisa mudik gratis—atas biaya kantor—ke Gunkid. Hehehe.
Mendekati minggu M (bukan hari H), aku sempet enggak semangat. Entah kenapa, tiba-tiba kesenangan itu menguap. Setelah dengerin lagu Yogya Cinta Tiada Akhir-nya Katon, dan mengingat akan bertemu ortu, aku baru semangat lagi :) Ke Yogya aja pake dopping segala ya.
Sehari sebelum berangkat, bos-bos di kantor nanyain, ”Kapan mudik ke Yogya?” dan ”Wah, pikiranmu dah di rumah ya?” Wedew, dikiranya aku mo mudik beneran apa yak. DLK tuh tugas booos, tugaaas!! Aku tetap profesional kok. Emang sih, salah satu poin DLK kali ini adalah penyegaran. Jadi, meskipun kerja, boleh dong sambil seneng-seneng. So, aku berangkat ke Yogya dengan segudang rencana:
- nengokin dua sahabat yang baru aja melahirkan dan seorang sahabat baik lainnya
- nyobain hotspot di UGM (gak penting banget ya)
- belanja kain batik ma kaos Dagadu
- makan es krim Tip Top
- ketemuan ma temen kampus
- nyambangi Cilacs
- cari perak di Kotagede
- beli jilbab di Karita
- potong rambut di salon kecil kawasan UNY
- makan lotek/gado-gado Colombo
- makan mi jawa di deket SMA 1 Wonosari
- nyari toko makanan ringan langganannya Rony di Pasar Kranggan
- makan di Warung SS
- makan rujak gobet (rujak pake es krim) di deket Mirota Kampus
- nyari tambahan gelang-gelang etnik di Mirota Batik
- silaturahim ke kos lama
Memang agak kemaruk dan kurang realistis. Cuma punya waktu seminggu, tapi rencananya seabrek-abrek. Yah, namanya juga usaha :) Dari sekian banyak rencana itu, yang terwujud cuma empat terakhir. Hiks. Sempet sih ke kampus, tapi sebentar banget. Selebihnya, aku melakukan hal-hal yang tidak direncanakan:
- memenuhi keingintahuan Mbak Priski (dan aku juga siiih) akan mal terbesar di Yogya, Ambarrukmo Plaza
- nemenin sepupuku beli Harry Potter dan komik di Gramedia dengan ”kartu sakti” yang bisa ngasih diskon 20 persen :D
- makan bakso uleg di Terban, makan ayam goreng Ninit (di Terban juga), minum wedang ronde tengah malem di Mangkubumi, makan lumpia semarang, makan sate klathak di Bantul, ngeliat pabrik Bakpia 25 di Pathok, ngopi di angkringan pinggir rel Lempuyangan, trus makan nasi goring sapi di Kotabaru. Waduh, kok makan mulu yaaa. Untuk liputan makan-makannya bisa diintip di sini (tapi sementara belom diaplod).
- Oya, sempet foto-foto di Jembatan Gondolayu deket hotel. Aku dan Mbak Priski bela-belain pulang menyelinap—biar gak dianterin pulang ma temen kantor. So, kami bisa leluasa jalan kaki dan berhenti di jembatan itu. Ternyata banyak juga yang sengaja foto-foto di situ alias pada narsis.
- Trus, Yogya juga punya sistem transportasi ala busway Jakarta. Nama busnya transjogja. Karena belom beroperasi, akhirnya cuma bisa motret haltenya aja.
Tak lupa, karena sinonim DLK kali ini adalah mudik gratis, aku menyempatkan diri nengokin ortu di rumah di awal dan akhir masa tugas. Pas hari kerja aku sama sekali gak pulang, demi profesionalisme (cuih!!!) dan biar gak disergap rasa malas kerja. Kalo dah di rumah bisa gawat, gak mau beranjak lagi.
Satu-satuhya bagian yang amat tidak menyenangkan adalah keterlambatan kedatangan KA yang akan membawaku pulang kandang. Kereta Turangga dari Surabaya yang dijadwalkan berangkat dari Yogya jam 23.10 baru datang sekitar jam 01.00 dan berangkat 01.20. Gile beneeeeer, nangkring di Tugu sampe 2,5 jam!!!
Seminggu berlalu amat cepat. Meskipun banyak rencana tinggal rencana, salah satu poin DLK yaitu penyegaran tercapai dengan sukses. Ini nih oleh-olehnya:
(kiri-kanan masing-masing baris): Jembatan Gondolayu, Tugu, halte bus transjogja Jalan Jend Sudirman, wedang ronde di Jalan Mangkubumi, rujak gobet Mirota Kampus Terban, bakso uleg Jalan C Simanjuntak, salah satu sudut redaksi kantor Yogya, sate klathak Bantul, kompleks Fakultas Filsafat UGM

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home